Laman

Kamis, 31 Mei 2012

belajar dari syair


Taman Tanpa Bunga


jerit tanpa suara
perih tanpa luka
darah tanpa rona
panas tanpa mawa
tangis tanpa derai air mata
raja tanpa mahkota
sabungkan nyawa
di taman tanpa bunga

tulip-tulip merah
jiwa-jiwa rebah
kalbu-kalbu pasrah
sayap-sayap patah
banyang-bayang berjubah
menghadang panah
di taman tanpa bunga

putra-putri surya
merajut sahara
merapat di dermaga
membangun tenda
menyelam ditelaga
melepas dahaga
di taman tanpa bunga

musim semi tiba
pohon jasad
tangkai tangan
daun telinga
biji mata
buah kepala
basah merekah
di taman tanpa bunga

apa mesti dikata
suci dilumuri noda
demi disahut angkara
wahyu ditikam dusta
takbir dijawab tawa
cinta dibalas tuba
di taman tanpa bunga

aku merintih dalam lara
mengarang dalam asmara
menggelapar dalam cinta
meronta dalam duka
menjerit dalam gelora
memukul dada bagai gila
di taman tanpa bunga


syair yang berjudul "taman tanpa bunga" ini saya dapat pada bagian awal buku yang berjudul "Husain Sang kesatria langit" dengan penulis buku Muhsin Labib. ketika itu syair tersebut sedikit lebih membuat gentar kalbuku banyak sekali makna-makna yang terlintas pada pikiranku. dilain  hal banyak juga tafsiran tentang syair tersebut dengan sejauh kemapuan otakku untuk menelaahnya.
ketika itu sebelum membaca isi buku, sesejenak merenung tentang kendungan syair pada awal tersebut.jika dipahami, yang dapat diambil dari pelajaran sebuah pengorbanan besar yang tak sia-sia. jelasnya jika kita menginginkan sesuatu untuk didapatkan namun begitu mustahil dalam pikiran kita untuk mewujudnya. dilain hal intuisi kita selalu mendorong untuk mewujudnya, sehingga bekal semangat menggumpal seakan akan meledak yang nantinya menjadi usaha untuk mewujudnya. kembali pada syair tersebut terngian pula makna keseluruhan dalam esensinya. mungkin hanya sepele, tapi ini harus benar-benar diperhatikan. seberapa banyak pengorban kita? seberapa tinggi semangat kita? dua hal yang saling berkaitan, artinya yang nanti menjadi modal dasar keinginan untuk mewujudnya.
kondisi, waktu, tempat yang mungkin tidak memungkinkan untuk sarana mengusahakan keinginan kita tidak mempengaruhi keingnan untuk mewujudnya jika bekal semangat masih dalam genggaman. dan ketika usaha berjalan tak ada respond dari tujuan yang ingin kita dapatkan, dari situlah sebenarnya ujian terberat untuk mencapai hasil yang diinginkan. bahkan bisa  menjadi virus untuk melengahkan semangat kita sehingga pupus dijalan. maka dari itu ketika semangat masih dalam genggaman, InsyaAllah, akan mencapai hasil yang diinginnya dengan keistiqomahan semangat itu. mungkin inilah tafsiran tentang syair di atas yang bisa diluapkan dalam bentuk teks.dan masih banyak lagi pemahaman yang masih tersimpan dalam memori otakku. semoga bermanfaat bagi pembaca, boleh berbeda pandangan mengenai syair diatas.
dari ini mohon bimbingan lebih lagi darii pembaca jika sedia merespond.
terimakasih
Poskan Komentar