Laman

Minggu, 24 Juni 2012

bani umayyah timur

BAB I
Pendahuluan

         Dinasti Umayyah Timur yaitu dinasti yang didirikan oleh keturunan Umayyah atas rintisan Mu’awiyah (661-680 M), yang berpusat di Damaskus. Daulah Umayyah Timur merupakan fase ketiga kekuasaan Islam yang berlangsung kurang lebih satu abad (661-750). Kemudian dalam makalah ini dibahas bahawa dinasti Bani Umayyah terbagi menjadi tiga masa yaitu masa permulaan, masa perkembangan dan masa keruntuhan. Dan ditambah lagi faktor-faktor penyebab melamahnya dinasti Bani Umayyah. Ciri menonjol yang yang ditamilkan dinasti ini, antara lain pemindahan ibukota kekuasaan dari Madinah ke Damaskus; kepemimpinan dikuasai militer Arab dari lapisan bangsawan; dan ekspansi kekuasaan Islam yang lebih meluas yaitu pada masa kekuasaan Islam terbentang sejak dari Spanyol, Afrika Utara, Timur Tengah, sampai keperbatasan Tiongkok.[1] Untuk selanjutnya akan dijelaskan lebih lanjut dalam makalah ini.



BAB II
Pembahasan

A.    Berdirinya Daulah Umayyah
Sebutan Daulah Umayyah berasal dari nama salah satu pemimpin suku Quraisy pada zaman Jahiliyah yaitu “Umayyah ibn Abdi Syams ibn Abdi Manaf. Pada waktu itu Umayyah bersaing dengan pamannya, Hasyim ibnu Abdi Manaf, untuk memperoleh kehormatan dan kekeuasaan. Umayyah memiliki ketiga macam unsur-unsur itu diantaranya berasal dari keluarga bangsawan, serta mempunyai cukup kekayaan dan sepuluh orang putera-putera yang terhormat dalam masyarakat.
Bani Umayyah baru masuk Islam setelah Nabi Muhammad saw berhasil menaklukkan kota Mekah (Fathu Makkah).[2] Bani Umayyah adalah orang-orang terakhir masuk islam, akan tetapi mereka adalah musuh-musuh yang paling keras terhadap agama Islam pada masa sebelum mereka masuk Islam. Bani Umayyah itu pada hakekatnya dari semula telah menginginkan jabatan Khalifah itu, tetapi meraka belum mencapai harapan untuk mencapai cita-cita itu pada masa Abu Bakar dan Umar.[3] Baru setalah Umar meninggal, yang penggantinya diserahkan kepada enam orang sahabat , Bani Umayyah menyokong pencalonan Usman secara terang-terangan, hingga akhirnya Usman terpilih.[4] Kemudian Mu’awiyah mencurahkan segala segala tenaganya untuk memperkuat dirinya, dan menyiapkan daerah Syam sebagai pusat kekuasaan.
Ketika itu khalifah Usman terbunuh dan Ali ibn Abi Thalib menggantikan kedudukan Usman Ibn Affan, Mu’awiyah telah membentuk partai yang kuat dan menolak untuk memenuhi perintah-perintah Ali. Kemudian desakan Mu’awiyah tertumpah dalam perang Siffin pada tahun 37H/657M. Pada waktu itu pasukan Mu’awiyah hampir terkalahkan, akan tetapi Amr ibn ‘Ash menasehati Mu’awiyah pasukannya agar mengangkat mushaf al-Qur’an di ujung lembing untuk pertanda damai. Kemudian Ali menyerukan pasukannya agar tidak tertipu dengan tindakan itu, dan meneruskan peperangan sampai akhir, namun keputusan Ali justru terjadi perpecahan di antara mereka sendiri dan Ali terpaksa menghentikan peperangan dan menerima tahkim. Keputusan yang dihasilkan oleh wakil pihak Ali (Abu Musa al-Asy’ari) dan pihak Mu’awiyah (Amr ibn ‘Ash) ternyata membantu memperkuat kedudukan Mu’awiyah dan golongan yang mendukungknya.[5] Peristiwa Tahkim tersebut justru merugikan Ali dan umat Islam terbagi menjadi tiga golongan diantaranya Bani Umayyah dan pendukungnya yang dipimpin Mu’awiyah, Syi’ah atau pendukung Ali, dan Khawarij (keluar dari barisan Ali) serta menjadi lawan dari kedua partai tersebut.

B.     Khalifah Daulah Umayyah
Daulah Umayyah yang Ibukota pemerintahannya di Damaskus, Berlangsung selama 91 tahun dan diperintah oleh 14 orang khalifah. Mereka itu adalah: Mu’awiyah (41H/661), Yazid I (60/680), Mu’awiyah II (64/683), Marwan I (64/683), Abdul Malik (65/685), Walid I (86/705), Sulaiman (96/715), Umar II (99/717), Yazid II (101/720), Hasyim (105/724), Walid II (125/742), Yazid III (126/744), Ibrahim (126/744), dan Marwan II (127-132/744-750).[6] Dan empat orang Khalifah diantara meraka memagang kekuasaan selama 70 tahun. Merka itu ialah : Mu’awiyah, Abdul Malik, Al Walid, dan Hisyam. Adapun yang sepuluh orang lainnya hanya memerintah selama 21 tahun.[7] Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang terjadi awal kekuasaan Bani Umayyah , pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun temurun). Kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi, dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak.[8] Pada masa Bani Umayyah dibentuk semacam Dewan Sekretaris Negara (Diwan al-Kitabah) untuk mengurus berbagai urusan pemerintahan, yang terdiri dari lima orang sekretaris yaitu: Katib ar-Rasail, Katib al-Kharraj, Katib al-Jund, Katib asy-Syurtah dan Katib al-Qadi.[9]
Ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Usman dan Ali dilanjutkan kembali dinasti ini. Di zaman Mu’awiyah, Tunisia dapat ditaklukkan. Disebelah timur, Mu’awiyah dapat menguasai daeah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibukota Bizantium, Konstantinopel.[10] Kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abd Al Malik dengan mengirim tentara menyebrangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawariz, Fergana, dan Samarkand.
Dilihat dari perkembangan kepemimpinan ke-14 khalifah tersebut, maka periode Bani Umayyah dapat dibagi menjadi tiga masa yaitu permulaan, perkembangan/kejayaan, dan keruntuhan. Masa permulaan ditandai dengan usaha-usaha Mu’awiyah meletakkan dasar-dasar pemerintahan dan orientasi kekuasaan; pembunuhan terhadap Husain ibn Ali, perampasan kota Madinah, penyerbuan kota Makkah pada masa Yazid I dan perselisihan diantara suku-suku Arab pada masa Mu’awiyah II.[11]

C.    Peran dalam berbagai bidang
Adapun peran Daulah Umayyah dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat dapat dikelompokkan menjadi empat bagian yaitu :
1.      Bidang Futuhat
Futuhat adalah upaya menyampaikan ajaran Islam ke berbagai wilayah melalui gerakan militer. Fakta sejarah tidak dapat dipungkiri bahwa Daulah Umayyah memiliki andil yang besar dalam pengambangan Islam. Pada masa Daulah Umayyah gerakan Futuhat terutama dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Mu’awiyah, Abdul Malik dan Walid I.[12] Gerakan Futuhat berlangsung selama kurang lebih 10 tahun yaitu tahun 705-715 M. Kemudian pada masa Umayyah organisasi militer terdiri dari Angkatan Darat (al-Jund), Angakatan Laut (al-Bahriyah) dan Angkatan Kepolisian (as-Syurtah).[13]
2.      Bidang Ilmu Pengetahuan
Dalam bidang Ilmu Pengtahuan Daulah Umayyah memiliki andil yang besar diantaranya adalah :
a)      Menetapkan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi Daulah Umayyah, yaitu pada masa Abdul Malik din Marwan dalam rangka memperdalam ilmu hisab.
b)      Mendirikan percetakan uang dengan tulisan Arab, sehingga dapat mencetak uang dinar dari emas dan dirham dari perak.
c)      Mendirikan seni bangunan yang bercorak Islami. Diantara bangunan-bangunan yang didirikan adalah masjid-masjid disepanjang semenanjung Arab. Di al-Quds (Jerussalem) Abdul Malik mendirikan masjid al-Aqsa. Qubah al-Sakhr di Quds, ditempat yang menurut riwayat adalah tempat nabi Ibrahim menyembelih Ismail a.s dan Nabi Muhammad saw mulai dengan Mi’raj ke langit.
d)     Perhatian yang besar Daulah Umayyah terhadap syair Arab.
e)      Perhatian besar juga terhadap Ilmu Tafsir, Hadits, Fiqh, dan ilmu Kalam.
f)       Menjadikan akademik Jundi shapur sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam, khususnya ilmu pengetahuan.
g)      Memebukukan Hadits Rasulullah saw pada masa Umar bin Abdul Aziz.[14]
3.      Bidang Ekonomi
a)      Mencetak mata uang sebagai alat tukar dalam jual beli.
b)      Menciptakan kerjasama perdagangan diantara negara-negara Islam lainnya.
c)      Menciptakan dan menjadi contoh dalam kejujuran berdagang.
4.      Bidang Sosial Politik
a)      Menetapkan bahasa Arab sebagai bahasa resmi nasional
b)      Mengambangkan seni dan sastra arab
c)      Mendirikan lembaga pemaliharaan anak yatim
d)     Mendirikan rumah sakit penyakit kusta
e)      Memberikan contoh yang bijak sebagai pemimpin yang mementingkan urusan agama daripada urusan politik.[15]

D.    Faktor-faktor penyebab runtuhnya Daulah Umayyah
            Faktor-faktor penyabab Daulah Umayyah lemah dan membawa kepada kehancuran yaitu sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan menjadi tradisi baru bagi bangsa Arab yang lebih menekankan aspek senioritas. Kemudian letar belakang terbentukanya dinasti  Bani Umayyah tidak bisa dipisahkan dari konfilk-konflik yang terjadi di masa Ali.[16] Pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qays) dan Arabia Selatan (Bani Kalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam semakin meruncing. Kemudian lemahnya Bani Umyyah disebabkan karena pemerintahannya hidup mewah, disamping itu golongan agama banyak yang kecewa karena perkembangan agama sangat kurang. Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti Bani Umyyah adalah munculnya kekuasaan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas ibn Abd Al-Muthalib.[17]
Kejayaan Bani Umayyah dimulai pada masa pemerintahan Abdul Malik.[18] Maka dari itu Abdul Malik dianggap sebagai pendiri Daulah Umayyah kedua, sebab dia mampu mencegah Disintegrasi pada masa Marwan. Abdul Malik berhasil mengatasi administrasi pada pemerintahan Bani Umayyah. Kemudian pada masa Walid I merupakan masa kemenangan, kemakmuran dan kejayaan. Sebab Islam menyabar ke daerah barat dan timur serta beban hidup masyarakat mulai ringan. Kemudian Bani Umayyah runtuh pada masa pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz. Dia terpelajar, dan taat beragama. Dia juga merupakan pelopor penyabaran agama Islam. Sepeninggal Umar I kekhalifahan mulai melamah dan akhirnya hancur.[19]

Bab III
Penutup

            Demikianlah pemerintahan Daulat Bani Umayyah timur yang berpusat di Damasakus. Oleh karna itu Daulat Bani Umayyah memendahkan ibukota kekuasaan dari Madinah ke Damaskus. Kemudian kepemimpinan dikuasai militer Arab dari lapisan bangsawan dan ekspansi kekuasaan Islam yang lebih meluas yaitu pada masa kekuasaan Islam terbentang sejak dari Spanyol, Afrika Utara, Timur Tengah, sampai keperbatasan Tiongkok. Walaupun pemerintahan Daulat Bani Umyyah menggunakan sistem monarchi, tetapi mereka telah mengembangkan lembaga-lembaga Islam. Hal ini telah didukung oleh para khalifahnya untuk pengembangan peradaban Islam. Namun setelah itu Bani Umayyah runtuh disebabkan karena para khalifah hidup bermewah-mewahan. Berarti Daulat Bani Umayyah terbagi menjadi tiga masa yaitu masa permulaan, perkembangan dan keruntuhan.


















Daftar Pustaka

Prof. Dr. A. Syalabi. SEJARAH dan KEBUDAYAAN ISLAM 2, (Pustaka Al Husna, 1992, cetakan ke II)
Dr. Badri Yatim, M.A.(ed) Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Jakarata: Rajawali Pers, 2010 Cetakan ke-22.
Siti Maryam, dkk.(ed.). Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yoyakarta: LESFI, 2003
Rosidul Anwar, S.Pd.I. Pendidikan Tarikh kelas XI. Yogyakarta, 2008.













[1] Siti Maryam, dkk.(ed.). Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yoyakarta: LESFI, 2003, hlm. 67
[2] ibid. hlm. 68
[3] Prof. Dr. A. Syalabi. SEJARAH dan KEBUDAYAAN ISLAM 2, (Pustaka Al Husna, 1992, cetakan ke II), hlm. 26
[4] Siti Maryam, dkk.(ed.). Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yoyakarta: LESFI, 2003, hlm. 68
[5] ibid. hlm. 68
[6] ibid. hlm. 69
[7] Prof. Dr. A. Syalabi. SEJARAH dan KEBUDAYAAN ISLAM 2, (Pustaka Al Husna, 1992, cetakan ke II), hlm. 29
[8] Dr. Badri Yatim, M.A.(ed) Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Jakarata: Rajawali Pers, 2010 Cetakan ke-22. Hlm. 42
[9] Siti Maryam, dkk.(ed.). Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yoyakarta: LESFI, 2003, hlm. 71
[10] Dr. Badri Yatim, M.A.(ed) Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Jakarata: Rajawali Pers, 2010 Cetakan ke-22. Hlm. 43
[11] Siti Maryam, dkk.(ed.). Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yoyakarta: LESFI, 2003, hlm. 69
[12] Rosidul Anwar, S.Pd.I. Pendidikan Tarikh kelas XI. Yogyakarta, 2008. Hlm. 7
[13] Siti Maryam, dkk.(ed.). Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yoyakarta: LESFI, 2003, hlm. 76

[15] Rosidul Anwar, S.Pd.I. Pendidikan Tarikh kelas XI. Yogyakarta, 2008. Hlm. 8-10
[16] Dr. Badri Yatim, M.A.(ed) Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Jakarata: Rajawali Pers, 2010 Cetakan ke-22. Hlm. 48

[17] ibid. Hlm. 49

[18] Siti Maryam, dkk.(ed.). Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern. Yoyakarta: LESFI, 2003, hlm. 68
[19] ibid. hlm. 70
Poskan Komentar