Laman

Rabu, 27 Maret 2013

Agama Budha


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Maraknya kekerasan yang mengatasnamakan agama beberapa waktu lalu membuat kita semua resah. Bangsa ini kini sangat mudah naik pitam  hanya karena hal-hal sepele saja. Bangsa ini yang terdiri dari berbagai suku, ras agama, golongan seolah tak mampu lagi menyikapi perbedaan yang telah ada sebelum negara ini berdiri.
Tentunya kita masih ingat dengan kasus penolakan dan penyerangan jamaah Ahmadiyah, penyerangan Pondok Pesantren Syiah di Madura, kasus GKI Yasmin di Bogor, dan kasus HKBP Filadelfia di Bekasi. Kasus-kasus tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak kasus di negeri Bhineka Tunggal Ika ini yang mengatasnamakan agama sebagai alasan untuk melakukan penyerangan dan pengrusakan.
Melihat kenyataan tersebut, sudah seharusnya bangsa ini, khususnya para generasi muda, mulai belajar untuk menerima sebuah perbedaan. Mereka harus tahu bahwa perbedaan itu suatu yang niscaya ada. Perbedaan itu indah jika saling menghormati satu sama lain. Pelangi tak akan indah jika warnanya hanya satu, seperti itulah hidup tanpa sebuah perbedaan.
Oleh karena itu, perlu rasanya untuk kita, sebagai generasi penerus bangsa ini mempelajari tentang agama-agama lain selain agama yang kita anut saat ini. Tujuannya agar kita tidak mudah menyalahkan agama lain di luar agama kita. Agar kita mampu hidup berdampingan dengan para pemeluk agama lain. Untuk itu, dalam makalah ini kita akan berbicara tentang agama Budha yang mencakup bagaimana agama Budha lahir, seperti apa pokok-pokok ajarannya dan bagaimana perkembangan agama Budha setelah pembawa ajarannya meninggalkan dunia ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Agama Budha lahir?
2.      Apa Pokok-Pokok Ajaran Agama Budha?
3.      Bagaimana Perkembangan Agama Budha?



BAB II
PEMBAHASAN
A.     Lahirnya Agama Budha
Agama Budha lahir dan berkembang pada abad ke-6 sebelum Masehi.[1] Agama Budha merupakan sebuah ajaran yang dibawa dan disebarkan atau didakwahkan oleh Sidartha Gautama. Nama agama Budha sendiri merujuk pada sosok Sidharta Gautama yang mendapat julukan orang yang mendapat pencerahan.
Sidartha Gautama merupakan seorang pangeran dari Kerajaan Kapilawastu. Ia lahir tahun 563 SM.[2] Sumber lain mengatakan bahwa ia lahir pada tahun 560 SM (Michael Kene, 2006).  Ayah Sidartha bernama Raja Sudhodhana dan ibunya bernama Maya. Sebagai seorang Pangeran, ia hidup dengan penuh kemewahan, kesenangan, dan kebahagiaan di dalam istana. Hidupnya mulai berubah, ketika ia secara diam-diam keluar istana. Di luar istana ini lah kemudian, ia mendapatkan empat pengalaman yang mengubah jalan hidupnya.
Empat pengalamannya tersebut ialah, melihat seorang laki-laki tua yang lemah dan menyaksikan betapa usia tua itu menghancurkan ingatan, keindahan, dan keperkasaan. Hal kedua yang ia lihat ialah, orang cacat yang tersiksa kesakitan. Ia juga melihat orang yang menangis duka dalam sebuah prosesi pemakaman dan kematian. Dan hal terakhir yang ia lihat ialah seorang suci yang sedang mengembara dengan rasa puas dan gembira, berjalan dengan mangkok derma di tangannya.[3]
Keempat hal itulah yang kemudian menguatkan tekadnya untuk pergi ke luar  istana dan melakukan pengembaraan untuk mencari pengetahuan akan kebenaran. Jarak waktu antara ia pergi dari istana sampai ia mendapatkan pencerahan diperkirakan selama tujuh tahun lamanya.[4] Michael Kene mengungkapkan bahwa, hal pertama yang Sidharta Gautama lakukan adalah berlatih Yoga. Kemudian melanjutkan dengan hidup sangat miskin selama lima tahun lamanya. Meski demikian, ia belum menemukan hakikat sebuah kebenaran.
Sidartha Gautama lalu melanjutkan pengembaraannya mencari kebenaran dengan melakukan tapa brata di bawah pohon Bodhi. Di sana lah kemudian ia mendapatkan  jawaban atas pencariannya selama ini. Tiga malam berikutnya ia melewati tiga tahapan pencerahan melawan godaan Mara, roh jahat. Malam pertama ia melihat seluruh kehidupan pertamanya melintas di depan matanya. Malam kedua, ia melihat lingkaran kelahiran, kehidupan, dan kematian. Dan malam ketiga ia mengerti tentang Empat Kebenaran Mulia yang mencakup keseluruhan penderitaan, asal usul penderitaan, penyembuhan penderitaan dan jalan menemukan penyembuhan tersebut. Kemudian, jadilah ia sebagai seorang Budha, orang yang menerima pencerahan. Peristiwa besar tersebut merupakan kejadian besar dalam agama Budha dan dijuluki sebagai Malam Suci (Scared Night).[5]

B.     Pokok Ajaran Agama Budha
Pokok ajaran Agama Budha terdiri dari Empat Kebenaran Mulia dan Delapan Jalan Kebajikan (Jalur Tengah). Asas dari seluruh ajarannya tersebut disampaikan saat khotbah pertama Sidharta Gautama di Taman Menjangan di depan murid-muridnya. Mari kita bahas apa saja Empat Kebenaran Mulia dan Delapan Jalur Kebajikan tersebut.
1.      Empat Kebenaran Mulia
Empat kebenaran mulia merupakan dasar semua kepercayaan Agama Budha. Empat kebenaran mulia tersebut ialah, sepanjang hidup manusia akan mengalami penderitaan, penyebab penderitaan tersebut karena keinginan manusia yang kuat terhadap hidup, kesenangan, dan uang. Selanjutnya, untuk menghilangkan penderitaan maka keinginan yang kuat harus disingkirkan. Terakhir, jalur tengah merupakan satu-satunya jalan menghilangkan keinginan yang kuat tersebut. Jika sudah mampu menghilangkan keinginan yang kuat pada keterikatan duniawi, maka lingkaran kelahiran, kehidupan, dan kematian akan dapat dipecahkan.
2.      Delapan Jalan Kebajikan
Delapan jalan kebajikan inilah yang disebut sebagai jalan tengah antara ekstrem askese dan hawa nafsu untuk menghilangkan keinginan yang kuat. Delapan jalan kebijakan tersebut ialah sebagai berikut; mengerti empat kebenaran dengan benar, berpikir yang benar, berbicara yang benar, berbuat yang benar, mata pencaharian yang benar, usaha yang benar untuk mengusir pikiran yang jahat, perhatian yang benar, dan konsentrasi yang benar dengan menggunakan meditasi.
            Itulah empat Kebenaran Mulia dan Delapan Jalan Kebajikan (Jalur Tengah) yang menjadi pokok dari ajaran Budha. Selain itu, ada sejumlah ajaran yang ditambahkan. Tetapi yang paling penting adalah ajaran tentang lima aturan. Lima aturan yang dimaksud ialah, tidak boleh membunuh, tidak boleh mencuri, tidak boleh berzina, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh mabuk.

C.     Perkembangan Agama Budha
Dikisahkan bahwa setelah mendapatkan pencerahan, Sidartha kemudian menyebarkan ajarannya. Di Taman Menjangan, ia menyampaikan khotbahnya yang pertama. Khotbah pertama inilah yang kemudian menjadi pijakan atas seluruh ajarannya yang terkenal dengan sebutan Empat Kebenaran Utama dan Delapan Jalan Kebajikan. Setelah itu ia mengembara dari  satu kerajaan dan kerajaan lainnya bersama rombongan muridnya selama empat puluh tahun lamanya. Murid-murid pertama Sidharta adalah kelima temannya yang dulu hidup bersama dalam bingkai kemiskinan.[6] Dalam usia delapan puluh tahun, ia kemudian menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan saudara dan murid terkasihnya.
Sepeninggal Sidharta, Agama Budha kemudian terpecah menjadi dua aliran besar, yakni Aliran Theravada atau Hinayana dan Mahayana. Kedua aliran inilah yang menjadi kelompok utama pengajaran Budha. Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas satu-persatu secara singkat saja.
1.      Aliran Theravada (Hinayana)
Aliran ini tersebar di Srilangka, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja dan tempat lain di Asia Tenggara. Theravada bermakna jalan bagi kaum tua-tua (Michael Kene, 2006). Aliran ini juga disebut Hinayana yang berarti kendaraan kecil. Ajaran dari aliran ini bersandar pada kitab suci yang disebut Pali Canon. Mereka mempercayai bahwa Pali Canon merupakan catatan akurat tentang apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Budha (Sidharta). Kitab suci ini kemudian di bagi menjadi tiga bagian. Pertama, Vinaya Pitaka, yang berisikan tentang peraturan tata hidup setiap anggota-anggota biara. Kedua, Sutta Pitaka, berisi tentang himpunan ajaran dan kotbah Sidharta Gautama. Ketiga, Abidhamma Pitaka, berisi tentang berbagai himpunan yang memiliki nilai-nilai tinggi bagi latihan-latihan, pembahasan mendalam tentang pemikiran dan proses kesadaran.[7]
Aliran Theravada berpendapat bahwa Sidharta Gautama adalah manusia biasa yang telah mendapatkan pencerahan. Aliran ini masih mempertahankan sifat kesederhanaan ajaran Budha Gautama seperti yang diamalkan oleh pengikut-pengikut Sidharta pada masa permulaan. Dalam aliran ini terdapat dua kelompok umat. Pertama,  para biarawan dan biarawati yang kehidupannya tergantung pada kaum awam Budha. Kedua pemilik rumah tangga yang memberikan makanan, pakaian, uang kepada para biarawan dan biarawati untuk menerima kemurahan saat lahir di masa yang akan datang. Menurut aliran ini, hampir tidak mungkin bagi orang awam bisa mendapatkan pencerahan, maka jika ingin mendapatkan pencerahan tersebut, mereka harus menjadi rahib terlebih dahulu.
2.      Aliran Mahayana
Mahayana berarti kendaraan besar. Aliran ini mulai tumbuh dan berkembang sekitar abad 2 M (Joesoef Sou’yb, 1983). Aliran ini berkembang di daerah Tibet, Mongolia, Tiongkok, Korea dan Jepang. Menurut aliran ini, Sidharta Gautama merupakan seorang manusia yang memiliki kelebihan. Menurut kepercayaan  mereka, pernah ada Budha, ada Budha, dan akan banyak Budha yang lainnya. Itu artinya, aliran ini memberikan kesempatan lebih banyak kepada kaum awam untuk mendapatkan pencerahan.
Kitab suci aliran ini pada masa awalnya ditulis dengan menggunakan bahasa Sansekerta. Isi dari kitab ini kebanyakan dapat ditemui di Pali Canon tetapi dengan penambahan kitab-kitab lainnya. Menurut mereka, kitab-kitab tambahan tersebut ialah sabda Budha. Salah satu di antaranya yang paling terkenal ialah Vimalakirti Sutra yang berisi tentang seseorang yang berumah tangga tetapi derajatnya lebih tinggi daripada semua Bodhisatwa.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Agama Budha lahir dan berkembang pada abad ke-6 M. Sidharta Gautama, Sang Pangeran dari Kerajaan Kapilawastu, adalah sang pembawa ajaran Budha tersebut. Ia mendapatkan pencerahan sehingga disebut Budha setelah melakukan pengembaraan mencari hakikat kebenaran selama kurang lebih tujuh tahun lamanya. Ia mendapatkan pencerahan ketika bertapa di bawah pohon Bodhi. Di bawah pohon Bodhi itulah, ia melewati tahapan pencerahan menahan godaan Mara, roh Jahat. Setelah mendapatkan pencerahan, ia kemudian menyebarkan ajarannya selama empat puluh tahun dari kerajaan satu ke kerajaan yang lainnya bersama murid-muridnya.
            Pokok-pokok ajaran Agama Budha tercakup dalam Empat Kebenaran Mulia dan Delapan Jalan Kebajikan. Ajaran yang merupakan asas dari seluruh ajaran Budha ini merupakan pidato pertama Sidharta Gautama di Taman Menjangan di depan murid-muridnya. Empat Kebenaran yang dimaksud ialah manusia sepanjang hidupnya akan selalu mengalami penderitaan, penderitaan ini disebabkan karena keinginan kuat terhadap kesenangan duniawi, untuk menghilangkan penderitaan, maka keinginan yang kuat harus disingkirkan, dan yang terakhir, untuk jalur tengah merupakan satu-satunya jalan menghilangkan keinginan yang kuat tersebut.
            Sedangkan Delapan Jalan Kebajikan yang dimaksud ialah mengerti empat kebenaran dengan benar, berpikir yang benar, berbicara yang benar, berbuat yang benar, mata pencaharian yang benar, usaha yang benar untuk mengusir pikiran yang jahat, perhatian yang benar, dan konsentrasi yang benar dengan menggunakan meditasi. Selain itu, agama Budha juga mengenal lima aturan. Lima aturan tersebut adalah tidak boleh membunuh, tidak boleh mencuri, tidak boleh berzina, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh mabuk.
            Setelah Sidharta Gautama meninggal, agama Budha kemudian terpecah menjadi dua aliran, yakin Theravada dan Mahayana. Aliran Theravada berpendapat bahwa hampir tidak mungkin bagi orang awam untuk mencapai pencerahan. Sedangkan aliran Mahayana, memberikan kesempatan lebih besar bagi pemeluk agama Budha untuk mencapai pencerahan. Selain itu, Jika aliran Theravada menganggap Gautama merupakan manusia biasa, maka aliran Mahayana berpendapat bahwa Gautama merupakan seorang yang memiliki kelebihan.

Daftar Pustaka

Joesoef Sou’yb. 1983. Agama-Agama Besar Dunia. Jakarta: Pustaka Al-Husna
Michael Keene. 2006. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius
Honig Jr. 1997. Ilmu Agama. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.



[1] Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Dunia (Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983), hlm. 72.
[2] Ibid, hlm. 72
[3] Michael Keene, Agama-Agama Dunia (Yogyakarta, Kanisius, 2006), hlm. 68.
[4] Honig Jr. Ilmu Agama, (Jakarta, PT BPK Gunung Mulia, 1997), hlm. 173
[5] Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Dunia (Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983), hlm. 77
[6] Michael Keene, Agama-Agama Dunia (Yogyakarta, Kanisius, 2006), hlm. 68.
[7] Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar Dunia (Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1983), hlm. 73.
Poskan Komentar